YARSIS

Mendengar kata operasi tulang belakang mungkin langsung membuat sebagian orang merasa takut. Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah kemungkinan mengalami kelumpuhan setelah operasi. Kekhawatiran ini wajar, mengingat tulang belakang memiliki hubungan erat dengan saraf dan sumsum tulang belakang.

Namun, anggapan bahwa operasi tulang belakang pasti menyebabkan kelumpuhan adalah mitos.

Risiko Kelumpuhan Memang Ada, tetapi Rendah

Setiap tindakan operasi memiliki risiko, termasuk operasi tulang belakang. Namun, kelumpuhan permanen setelah operasi bukanlah sesuatu yang pasti terjadi.

Sebuah studi terhadap 11.817 operasi tulang belakang pada pasien dewasa menemukan 21 kasus defisit neurologis mayor yang muncul segera setelah operasi, atau sekitar 0,178 persen. Dalam studi tersebut, angkanya berbeda berdasarkan lokasi operasi: sekitar 0,293 persen pada area servikal, 0,488 persen pada torakal, dan 0,0745 persen pada lumbal atau sakral.

Artinya, risiko komplikasi neurologis serius memang ada, tetapi relatif rendah dan jauh dari anggapan bahwa operasi tulang belakang pasti membuat seseorang lumpuh.

Mengapa Risiko Bisa Rendah?

Perkembangan teknologi dan teknik operasi turut membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih terarah. Dalam operasi tulang belakang, dokter dapat menggunakan berbagai pendekatan sesuai kondisi pasien, termasuk teknik minimal invasif dan neuromonitoring untuk membantu memantau fungsi saraf selama tindakan.

Namun, teknologi bukan berarti risiko dapat dihilangkan sepenuhnya. Setiap operasi tetap memiliki kemungkinan komplikasi dan membutuhkan pertimbangan medis yang matang.

Area Operasi Juga Berpengaruh

Risiko komplikasi neurologis dapat berbeda tergantung bagian tulang belakang yang ditangani dan jenis operasinya. Data penelitian menunjukkan adanya perbedaan angka defisit neurologis antara operasi pada area servikal, torakal, dan lumbal.

Karena itu, risiko tidak bisa disamaratakan untuk semua pasien. Kondisi penyakit, lokasi masalah, jenis tindakan, riwayat kesehatan, dan kompleksitas operasi perlu dipertimbangkan secara individual.

Jangan Menunda Pengobatan karena Takut

Ketakutan terhadap kelumpuhan memang dapat membuat seseorang ragu menjalani operasi. Hal ini juga terlihat dalam pemberitaan mengenai Hotman Paris yang mengaku sempat takut lumpuh sebelum menjalani operasi tulang belakang akibat saraf terjepit. Setelah operasi, ia mengalami masa pemulihan dan tetap membutuhkan pemeriksaan lanjutan karena keluhan nyeri kembali muncul setelah beraktivitas terlalu cepat.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa proses operasi dan pemulihan setiap pasien dapat berbeda. Bahkan setelah tindakan, mengikuti instruksi dokter selama masa pemulihan tetap menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

Jadi, operasi tulang belakang tidak berarti pasti lumpuh. Risiko memang tetap ada, tetapi besarnya bergantung pada kondisi dan jenis operasi yang dilakukan.